Belajar Menulis Buku PGRI, Gel. 27

Judul                  : Kaidah Pantun
Hari/Tanggal     : Rabu/ 21 September                                        2022
Pertemuan ke    : 14
Narasumber       : Bpk. Miftahul Hadi, S. Pd
Moderator           : Ibu Lely Suryani, S. Pd,                                   SD
Malam ini belajar menulis kita bertemakan "Kaidah Pantun". 
Baiklah penulis akan menjabarkan pengertian dari kata-kata penyusun tema malam ini
Kaidah adalah
patokan atau ukuran sebagai pedoman bagi manusia dalam bertindak. Kaidah juga dapat dikatakan sebagai aturan yang mengatur perilaku manusia dan perilaku sebagai kehidupan bermasyarakat. Secara umum kaidah dibedakan atas dua hal yaitu kaidah etika atau kaidah hukum. Wikipedia

Pantun adalah
Salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal di Nusantara. Kata "Pantun" berasal dari kata patuntun dalam Bahasa Minangkabau yang memiliki arti "penuntun". Wikipedia

Inti dari tema malam ini adalah ukuran atau tata cara pembuatan Pantun. 
Kebetulan penulis berasal dari minang, memang di adat Minangkabau Pantun ini sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari. Orang minang dalam bertutur kata menggunakan kato nan ampek ( kata yang empat) yaitu:
Kata mandaki ( kata mendaki)
Adab berbicara kepada yang lebih tua
Kata Mandata ( kata mendatar)
Adab berbicara kepada yang seumur
Kata Malereng ( melereng)
Adab berbicara kepada yang disegani
Kato manurun ( menurun) 
Adab berbicara kepada yang lebih kecil. 

Didalam Adab berbicara inilah kadang-kadang Pantun diselipkan. 

Pantun merupakan sebuah media yang sering dipergunakan dalam tindak komunikasi. 

dalam masyarakat, baik oleh muda-mudi misalnya dalam bercinta atau mencurahkan isi hati 

melalui surat. Bagi golongan tua pantun biasanya dipergunakan dalam pidato upacara adat. 

Pantun telah lama dipergunakan oleh masyarakat. Sampai sekarang bentuk-bentuk pantun 
tersebut masih dapat dijumpai khususnya pada masyarakat Minangkabau, misalnya dalam acara 
“manjapuik marapulai” (menjemput mempelai pria), “batagak gala” (memberikan dan 
mengukuhkan gelar), “batagak penghulu” (mengukuhkan penghulu) atau dalam pidato upacara 
adat lainnya. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa pantun bukanlah barang baru dalam 
masyarakat Minangkabau.

Oleh: 
Leo Fandi1, Agustina2, Nurizzati3 
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 
FBS Universitas Negeri Padang 
email: leofandi34@yahoo.co.id

Banyak lagi daerah di Nusantara yang menggunakan pantun dalam berbagai kegiatan termasuk nyanyian. Seperti daerah Riau, betawi, Palembang dll. 

Untuk lebih jelasnya marilah kita simak penjelasan tentang kaidah Pantun ini yang akan diuraikan oleh narasumber kita yaitu Bapak Miftahul Jadi, S. Pd dan sebagai moderatornya yaitu Ibu Lely Suryani.

Tepat pukul 19.00 moderator membuka acara dengan menyapa peserta dengan sebuah Pantun kemudian moderator membagikan linknya untuk dibaca mengenai PPPK Tak Dapat Dana Pensiun dan Nasibnya. Yang diterbitkan kompasiana. 

Tulisan ini mendapat respon lebih dari 1.000 orang. Luar biasa moderator kita dapat mengangkat tema yang lagi viral. 

Lanjut moderator juga menulis banyak Pantun di kompasiana. 

Sebelum materi dimulai, moderator menuliskan banyak Pantun yang diperuntukkan kepada narsum kita... 

Dalam pembelajaran malam ini semua disampaikan lewat Pantun, seperti yang dibawakan oleh narsum kita. Beliau membuka materi dengan Pantun. 

Tidak memperpanjang waktu langsung kita buka materi yang diberikan oleh narsum kita, namun sinyal sangat lemah sehingga materi yang diberikan lama terbukanya. 

Ketika materi terbuka dalam halaman pertama tertulis biodata narsum kita. Beliau adalah seorang guru pada SD Raji 1 Demak Jawa Tengah. 

Itulah uraian materi yang telah diberikan narsum kita yang hebat..... 

Penulis meminta maaf karena materinya dirasa sangat penting semua, jadi penulis terpaksa menangkap layar dari materi yang diberikan. 

Pantun pada saat ini  bukan hanya  Sebagai tradisional saja, melainkan lebih dikembangkan lagi ke event berupa perlombaan, seperti dibuatkan buku, serta diselipkan pada setiap kegiatan. 

Beli delima ke kota Bengkalis
Bengkalis santun dalam pemerintah
Mari bersama belajar menulis
Menulis Pantun bersama mas miftah

Beli ikan di pasar pagi
Ikan patin tidak bersisik
Mari belajar malam ini
Buat Pantun ternyata asyik

cendrawasih minum di ember
Air diminum rasanya hangat
Terima kasih kepada narasumber
Ilmu mengalir dengan semangat


Beli selasih naik motor
Motor merah parkir disini
Terima kasih kepada moderator
Atas acara yang lancar ini



Penulis


Asneli
Riau


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menulis Buku PGRI, Gelombang ke 27

Belajar Menulis PGRI Gelombang 27

Belajar Menulis Buku PGRI,Gel. 27