Musim Durian Telah Tiba

     Ketika aku pulang kampung sekitar 4 bulan yang lalu Mei 2022,bertepatan dengan hari raya idul fitri, orang-orang di kampungku bercerita kalau buah durian diladang mereka sudah mulai berbunga. Mereka sangat senang, karena terbayang oleh mereka, cuan-cuan yang akan masuk ke pundi-pundi mereka. Buah durian sering di sebut sebagai "Raja Buah". Tidak salah ada pepatah mengatakan "Bagaikan dapat durian runtuh". 
     Kampung terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam lebih kurang 140 km dari kota Padang ibukota Sumatera Barat. 36 km dari kota wisata Bukittinggi, dan 27 km dari ibukota kabupaten Agam yaitu Lubuk Basung. 
     Kebanyakan mata pencaharian penduduknya adalah berladang seperti kulit manis dan buah pala. Selain itu dikarenakan daerahnya yang terletak ditepian Danau Maninjau mereka juga membudidayakan ikan di keramba. Ikan yang dibudidayakan adalah ikan nila, ikan mas, sekarang ikan patin. 
     Batang durian juga ditanam di sela-sela tanaman yang ada diladang. 
     Lama buah durian dari berbunga sampai masak lebih kurang membutuhkan waktu 4 bulan. 
     September 2022 ini sebagian besar buah durian sudah masak. Alhamdulillah banyak buah terselamatkan. 
     Jika ada gempa ketika batang durian sedang berbunga maka bunganya akan berguguran. Atau binatang yang memanjatnya seperti siamang tentu juga mempengaruhi dengan keselamatan bunga durian. 
     Masa yang ditunggu-tunggu telah tiba. Masyarakat kampungku bergembira. 
     Sistem pembagian panen durian sudah diatur oleh nenek moyang kami. 
     Sumatera Barat terkenal dengan pembagian suku, seperti suku pili, chaniago, tanjung, jambak dll. Pembagian suku ini menurut garis keturunan ibu. Jika seorang ibu bersuku tanjung, maka keturunannya adalah yang bersuku tanjung. Bagian dari bapak disebut dengan bako. 
     Jika musim panen durian tiba maka durian-durian yang tumbuh diladang suku tersebut dibagi. Mereka secara bergantian setiap hari dalam suku tersebut, akan menunggu buah durian jatuh .durian yang jatuh pada hari itu akan menjadi milik yang mendapat giliran pada hari itu. Buah itu dikumpulkan di sebuah dangau,lalu buahnya sebagian dimakan dan di jual. 
     Jika musim durian tiba banyak pengepul atau pembeli datang ke kampungku, para pembeli bisa orang kampung asli, bahkan mereka datang dari berbagai daerah. Harga yang ditawarkan dari 10.000 sampai 20.000 perbuah tergantung besar kecilnya buah. Buah durian yang telah dibeli akan dibawa ke berbagai kota,seperti Pekan Baru dll. 
          Buah durian yang sudah terkumpul dibawa ke rumah untuk dijual maupun dimakan. 
     Buah yang tidak terjual akan diolah menjadi asam durian atau didaerah lain dinamakan dengan sebutan tempoyak. 
     Tempoyak adalah buah durian yang dikupas terlebih dahulu dan dibiarkan dalam 2 sampai 3 hari dan ditutup dengan kain atau penutup lainnya. Setelah hari yang ditentukan buah durian yang telah dibuka tadi diremas dan dipisahkan dari bijinya. Tempoyak ini digunakan untuk membuat sambal. Bisa digilingkan cabe lalu langsung dimakan dengan tempoyak ini, bisa di pepes, asam pedas dll. Bagi penggemar tempoyak ini jika memakannya mereka bilang" Mintuo Lalu Tak Nampak Lai". Maksudnya dikarenakan enaknya/nikmatnya makan nasi dengan olahan tempoyak/asam durian ini maka mertua lewat ngak sadar lagi... 
     Demikianlah cerita tentang raja buah yang ditunggu masa pengennya tiba,,, semoga dapat meningkatkan perekonomian penduduk, di sela keadaan ekonomi yang semakin susah.. 
Aamiin



Penulis


Asneli


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menulis Buku PGRI, Gelombang ke 27

Belajar Menulis PGRI Gelombang 27

Belajar Menulis Buku PGRI,Gel. 27