Belajar Menulis Buku, Gel. 27
Hari/Tanggal : Senin/3 September 2022
Tema : Kisah Perjalanan Keliling Dunia
Pertemuan : 19
Moderator : Lely Suryani
Narasumber : Taufik Hidayat
Tak terasa pertemuan kelas menulis memasuki pertemuan ke 19 dengan tema Kisah Perjalanan Keliling dunia dengan moderator Ibu Lily Suryani dan narasumber Bapak Taufik Hidayat.
Saya merasa sedih karena tidak dapat mengikuti kelas menulis di saat akhir-akhir pembelajaran menulis dikarenakan kendala pada jaringan. Terpaksa saya membuat resume di sekolah.
Seperti biasa kelas dibuka dengan doa dan moderator menyampaikan susunan acara yaitu pembukaan, materi, tanya jawab dan penutup.
Kemudian moderator menyampaikan profil narsum kita yai
Taufik lahir tahun 1961 dan saat ini berprofesi sebagai dosen di sebuah Universitas di Bekasi. Tamat sekolah penerbangan di Curug dan kemudian mengawali karir di dunia penerbangan. Karri ini yang membawanya berkelana ke manca negara dan sudah sekitar 70 negara di pelok dunia sempat dikunjungi. Pendidikan terakhir adalah di Pasca Sarjana Sekolah Kajian Strategis dan Global Universitas Indonesia dalam bidang Kajian Timur Tengah dan Islam.
Sampai saat ini sudah beberapa belas buku ditulisnya termasuk 1001 Masjid di 5 Benua yang terbit pada 2015. Taufik juga hobi menulis dan selain di Kompasiana, YPTD pernah juga menjadi kontributor di Intisari, serta Inflight Magazine Garuda Indonesia, Colours.
Moderator kita memberikan link tentang
*Siapa Lelaki Misterius di Logo Burger Paling Lezat di Dunia?* https://www.kompasiana.com/taufikuieks/633a71b208a8b52ff9189242/siapa-lelaki-misterius-di-logo-burger-paling-lezat-di-dunia?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile
Pagi baru merekah ketika kami memulai kembali jalan-jalan di Queenstown. Namun sebelum memulai perjalanan, ada baiknya mencari makanan untuk mengisi energi. Pilihan kali ini jatuh ke makanan terkenal dari Queenstown yaitu Fergburger yang konon dinobatkan sebagai burger paling lezat di dunia dan tidak pernah sepi antrean.
Rasa penasaran akhirnya membawa kami ke lokasi Fergburger di Shotover Street yang letaknya tidak jauh dari Beach Street. Seperti sudah diramalkan situasi restoran selalu ramai dengan pembeli dan antrean di depan kasir sudah ada beberapa orang. Sambil teman saya mengantre, saya sempatkan melihat-lihat situasi di dalam gerai yang katanya tidak pernah sepi ini.
Saya kembali ke jalan raya dan melihat resto ini dari luar. Tidak terlalu besar, lebarnya mungkin standar ukuran ruko sekitar 4 meter saja. Di bagian fasad depannya terdapat tulisan warna biru 'Fergburger," Dan tepat di sebelahnya ada lagi resto yang terlihat lebih besar dan bernama Fergbaker. Melihat Namanya kemungkinan besar dua gerai bertetangga yang alamatnya no 40 dan 42 Shotover Street ini dimiliki oleh pengusaha yang sama.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Siapa Lelaki Misterius di Logo Burger Paling Lezat di Dunia?", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/taufikuieks/633a71b208a8b52ff9189242/siapa-lelaki-misterius-di-logo-burger-paling-lezat-di-dunia?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile
Kreator: Taufik Uieks
Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com
Kemudian moderator menyerahkan acara kepada narasumber Bpk. Taufik Hidayat
Bapak narsum kita membuka acara dengan mengirimkan gambar tentang perjalanan beliau keliling dunia
Narsum menjelaskan tentang poto tersebut
Ini judulnya... itu gambarnya foto Masjid Katedral di Minsk Belarus... Saya kesana Maret 2018 lalu dalam suasana suhu udara masih sangat dingin yaitu minus 16 derajat Celsius.
Mendekati akhir Maret, dinginnya udara Kota Minsk terasa sangat tajam menusuk tulang, walau pakaian sudah berlapis 6. Di gawai yang dingin membeku, suhu menunjukan sekitar minus 16 derajat Celsius. Sedikit lebih dingin dibandingkan hari sebelumnya yang hanya minus 13.
Jumat siang itu, saya telah berjanji untuk kembali datang ke Cathedral Mosque atau Sobornaya Meschet yang beralamat di Vultsa Gribaydova no 29. Dari stasiun Metro Nyamiga saya kembali naik bus nomor 1 dan turun di halte di tepian Park Pobedy dengan danau dan telaga yang tertutup es membeku.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Hangatnya Sup dan Roti Persaudaraan di Masjid Katedral Minsk, Belarusia", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/taufikuieks/5ac1854bcaf7db6f2d52c414/hangatnya-sup-dan-roti-persaudaraan-di-masjid-katedral-minsk-belarus
Kreator: Taufik Uieks
Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com
[3/10 19:44] +62 812-9463-0266: Ini sebagian masjid-masjid yg pernah saya kunjuni .. sebelah atas kiri sampai kanat masjid Omar Ali Syaifuddin di Brunei.... yg tengah Jummag Masjid di Bangalore India, kanan Masjid di Esfahan, Iran, namanya Shah Mosque
[3/10 19:45] +62 812-9463-0266: Yang bawah,, masjid di Iskandiyah mesit.. tengah majsid Niujie atau Jalan Sapi di Beijing, dan kanan masid India di Kuala Lumpur,
Bejing, Awal Desember 2012, cuaca dingin sangat menusuk tulang, terutama saat kami berkunjung ke Tembok Besar di Mu Tian Yu dimana suhu bisa mencapai 10 derajat di bawah nol. Namun, setelah kembali ke pusat kota cuaca agak lumayan karena masih berkisar beberapa derajat saja di atas titik beku.
Setiap mampir ke Beijing, ada satu tempat yang wajib hukumnya untuk dikunjungi. Tempat ini adalah Niujielibaishi atau Masjid Niujie yang terletak di Niujie atau kalau diterjemahan menjadi Jalan Sapi. Konon dinamakan demikian karena penduduk muslim di kawasan ini sejak lebih dari 1100 tahun lalu memang tidak makan babi seperti kebanyakan orang Cina, melainkan makan sapi.
Distrik Xuanwu, tempat masjid ini berada terus berkembang dengan pesat. Tepat di sebrang masjid, kalau dulu hanya terdapat toko-toko kecil yang menjual makanan halal kini sudah berubah menjadi sebuah super market besar yang juga khusus menjual makanan halal. Di sebelahnya juga terdapat restoran muslim.
“Niujie Muslim Super Market:” demikian nama toko yang lumayan besar dengan warna hijau yang dominan pada papan nama tersebut. Kami sempat mampir sebentar ke dalam dan melihat berjenis-jenis makanan halal baik daging, makanan kecil, maupun oleh-oleh khas Cina. Pengunjungnya pun cukup ramai berbelanja di siang yang dingin itu.
Kami segera menyebrang Niujie untuk sampai ke pintu gerbang utama masjid. Tidak ada yang berubah di masjid yang abadi ini, kecuali catnya tampak seperti lebih ceriah. Mungkin belum lama dicat ulang. Gerbang utama, tempat jual tiket, tempat wudhu, dan juga ruang sholat utama yang tetap dilapisi hamparan karpet empuk yang berwarna hijau.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Uniknya Adzan Khas Masjid Niujie di Beijing", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/taufikuieks/55c0ab582223bdd1158b7dfb/uniknya-adzan-khas-masjid-niujie-di-beijing?page=all
Kreator: Taufik Uieks
Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com
Ini artikel mengenai uniknya masjid Niujie di Beijing.. Setiap ek Beijing saya selalu mampor di sini sejak pertama 1997 hingga beberapa kali terakhir kalau tidak salah 2012
Kemudian narsum memberikan poto tentang layar belakang penulis.
Poto tersebut diambil beliau di mesjid Boston, Desember 2015.
poto diatas di ambil narsum kita bersama Bpk. Presiden di Istana Negara berkat suka menulis di Kompasiana.
Selamat hari baru semuanya. Semoga hari ini lebih baik dari hari yang kemarin. Semoga pula kesehatan dan kebahagiaan mengiringi hari-hari anda bersama keluarga tercinta. Aamiin.
Seorang blogger ternama bertanya kepada Omjay. Apakah menulis itu karena bakat? Omjay merenung sejenak dan akhirnya, JADILAH TULISAN SANTAI INI.
Omjay selalu bertanya pada diri sendiri, apakah Omjay mempunyai bakat menulis? Rasanya tidak juga. Sebab menulis adalah sebuah kebutuhan. Sama ahalnya dengan makan dan minum.
Kata orang menulis itu harus punya bakat. Padahal tidak sama sekali. Kebiasaan menulis membuat anda menjadi bisa menulis. Oleh karena itu, menulis itu harus dilatih setiap hari. Membaca tulisan orang lain, akan menambah semangat anda dalam menulis.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menulis adalah Sebuah Kreativitas dan Bukan Bakat", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/wijayalabs/5685dd51927e61860f19e649/menulis-itu-karena-kebiasaan-dan-bukan-bakat
Kreator: Wijaya Kusumah
Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com
Poto diatas adalah poto disaat narsum kita berkunjung ke negara kenya dengan suku Masaai, poto yang tengah di mesjid Qul Syarif di Tatarstan dan bawah adalah tempat pemandian air panas di Tblisi Georgia.
Christchurch, Bang Lilik, dan Pepatah "Man Proposes, God Disposes"
16 Maret 2019 20:37 Diperbarui: 16 Maret 2019 20:37 1423 11 4
+
Lihat foto
Dok. Pribadi
Setelah sehari menunggu dengan harap-harap cemas, akhirnya berita meninggalnya sobat saya, salah seorang korban teror penembakan di Masjid An-nur, Christchurh menjadi pasti. Namanya masuk dalam daftar yang meninggal. Secara tidak sadar air mata nan hangat menetes mengalir di pipi.
Dari sekian banyak peristiwa teror, baik yang terjadi di tanah air maupun di mancanegara, peristiwa di Christchurch ini memang sangat menyentuh hati. Benar-benar di luar dugaan.
Selandia baru selama ini terkenal sebagai negeri yang aman, damai, makmur, indah, serta toleran. Dari sekian banyak negara maju yang telah saya kunjungi, Selandia Baru memang banyak meninggalkan kesan yang membuat kita selalu ingin kembali ke sana.
Sebuah negara di mana lebih banyak domba dan sapi dibanding manusia, namun rakyatnya tetap ramah terhadap wisatawan dan pendatang. Kesan pertama ini didapat ketika sempat mampir ke sini lebih 30 tahun lalu.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Christchurch, Bang Lilik, dan Pepatah "Man Proposes, God Disposes"", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/taufikuieks/5c8cfc2c0b531c78505e0c32/man-proposes-god-disposes-sisi-lain-teror-di-christchurch
Kreator: Taufik Uieks
Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com
Buku-buku ini mengisahkan tentang pengembaraan beliau keliling dunia dengan singgah dimesjid-mesjid yang beliau kunjungi.
Inti dari pertemuan tadi malam, adalah menceritakan perjalanan narasumber keliling dunia dengan mengunjungi mesjid-mesjid yang ada di negara tersebut, dengan keunikan masing-masing mesjid itu.
Hubungannya kegiatan perjalanan narsum kita dengan belajar menulis adalah bahwa
1. Untuk menulis kisah perjalanan kita, kita mulai dengan membuat poto-poto yang menarik dan unik dari perjalanan kita
2. Tambahkan kisah dari literasi yang lain sesuai dengan tema yang diangkat
3. Kisah lebih baik ditulis langsung karena lebih segar dalam ingatan
4.Kumpulkan cerita kita yang banyak tentang perjalanan, kemudian dibuatkan buku.
5. Mendeskripsikan suasana tempat kita singgah misalnya warna langit, pepohonan, bentuk bangunan dll.
Demikianlah resume yang dapat penulis sampaikan.
Terima kasih semua
Penulis
Asneli
Riau
Komentar
Posting Komentar